• gambar
  • gambar
  • SMAN 1 KRN

Selamat Datang di Website SMA Negeri 1 Karangnunggal

Pencarian

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 KARANGNUNGGAL

NPSN : 20210743

Jl.Raya Karangnunggal 46186 Telp.0265-580256 Tasikmalaya


info@sman1karangnunggal.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 72027
Pengunjung : 23266
Hari ini : 20
Hits hari ini : 63
Member Online : 1
IP : 3.235.180.193
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Tema Gaya Hidup Berkelanjutan




Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal. Agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Kurikulum ini sudah mulai diterapkan secara bertahap di beberapa sekolah. Terutama di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk sebagai sekolah penggerak. Namun pada akhirnya semua sekolah akan menggunakan kurikulum ini.

Salah satu pembeda kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya projek penguatan profil  pelajar pancasila. Adanya projek ini bertujuan untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila yang dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran. Tema-tema yang dikembangkan pada projek ada 7 yaitu kearifan  lokal, gaya  hidup berkelanjutan, bineka  tunggal ika, bangunlah  jiwa dan raganya, suara  demokrasi, wirausaha  dan berekayasa  dan berteknologi untuk NKRI.

Dari ke-7 tema tersebut diharapkan terbentuk profil pelajar pancasila yang memiliki dimensi sebagai berikut : Beriman dan bertakwa pada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, gotongroyong, kreatif dan bernalar kritis

Dalam tulisan ini saya akan menyoroti tema yang kedua yaitu “Gaya Hidup Berkelanjutan” dengan dimensi sasaran terbentuknya pelajar yang memiliki  jiwa gotongroyong, kreatif, dan bernalar kritis.

Gotongroyong merupakan hal yang tidak asing lagi bagi kita bangsa Indonesia, tapi pada kenyataannya budaya gotongroyong ini sudah mulai luntur pada generasi muda kita saat ini. Menumbuhkan sikap gotongroyong pada peserta didik memerlukan konsistensi dari para pendidik dalam setiap aktivitas pembelajaran. Jangan bosan untuk terus mengingatkan pentingnya bergotongroyong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Kreatif  diartikan sebagai suatu kemampuan di mana seorang pelajar harus bisa memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermanfaat, dan berdampak.  Baik  itu berupa gagasan, karya, atau tindakan  yang dikenal dengan kreativitas. Dengan kreativitas dapat menghasilkan inovasi-inovasi yang pada akhirnya dapat menjadi solusi bagi suatu permasalahan. Baik itu permasalahan lokal ataupun permasalahan global.

Perilaku bernalar kritis adalah perilaku yang selalu mengedepankan kebenaran, sehingga selalu berusaha mencari kebenaran dari setiap informasi yang diterima. Dengan kata lain pelakunya selalu mengedepankan logika dalam mencari kebenaran dalam menyelesaikan suatu masalah. Orang yang bernalar kritis tidak mudah percaya pada informasi yang diterima dan akan berfikir berdasarkan fakta-fakta yang ada. Begitu pun dalam mengambil keputusan akan selalu mempertimbangkan dengan fakta yang diterima.

Ketiga dimensi yang telah saya uraikan tersebut diharapkan berhasil diterapkan pada peserta didik melalui projek penguatan profil pelajar pancasila dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan” dan mengambil topik “Cari Berkah Dari Sampah”. Dengan demikian diharapkan bisa mengatasi masalah sampah yang setiap harinya dihasilkan di sekolah. Peserta didik mampu memilih dan memilah sampah. Mereka secara bergotong royong menciptakan tempat penampungan sampah yang praktis dan relatif murah. Kemudian mereka pun memikirkan pemanfaatan sampah dengan menciptakan barang-barang hasil daur ulang supaya menjadi barang yang berharga dan bernilai jual. Apabila peserta didik sudah mampu mengatasi masalah sampah di sekolah diharapkan kemampuan itu bisa dibawa ke lingkungan keluarganya.

Logikanya apabila di sekolah itu ada 1000 orang peserta didik dan semua membawa perilaku yang baik itu ke rumahnya maka akan ada 1000 keluarga yang dapat mengatasi masalah sampah dan memiliki kemampuan dalam merubah sampah menjadi hal yang bermanfaat.

Akhirnya diharapkan dimensi-dimensi yang sudah ditanamkan pada projek penguatan profil pelajar pancasila ini dapat menjadi karakter yang terus melekat sehingga pada saat peserta didik  telah menyelesaikan sekolahnya dapat menjadi bagian penting dalam mencapai kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Semoga! Aamiin.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas